SAYA tak tahu amanat umat yang bernama Madani itu berada di
mana saat ini. Tapi saya tahu siapa yang wajib ditanyai jika Antum perlu
mencari yang bertanggungjawab menghilangkannya.
Hal itu, karena saya melakukan pencatatan a la tasyri cukup
bernas untuk menggenapi hasil-hasil penelitian saya (JMC Research) terhadap
gerakan “mahasiswa demonstran” di Majalah Forum dan Gatra saat Jakarta dibakar,
ditembaki, dijarah, diperkosa, dst: kini kian absurd. Coba Antum tanya Madani itu
kepada Amien Rais, ia taruh di mana barang itu kini?
Risalah ini bukan revance
atas pe-recall-an saya dari DPR oleh
Amien Rais (karena saya menolak mencabut Hak Angket Skandal KKN Kredit Macet
Bank Mandiri berjumlah Rp 20,1 triliun yang mau di-write-off oleh ECW Neloe itu - ah, pakai beleid lain, recall saja
penghulunya, otomatis batal hak angket itu: via Kunker Mesir dengan dakwaan
bikin Abi Nuwas Qonun, by design obligor CS, recall itu mulus. Toh, saya ikhlas, karena uang rakyat itu gagal
dirampok, Neloe masuk bui, judi terkubur rapi jali, lebih dari yang saya
pikirkan).
Menulis Madani kini, semata permintaan Usman Hamid, bosnya
Kontras, karena diantarnya dengan SMS yang merangsang libido illahiah saya;
karena saat ini Allah yang laisa-kamislihi-saiun
itu, tak hadir di ruang publik, padahal sangat berhubungan dengan frasa Madani
yang, pemilik hak patennya --- Muhammad SAW --- sedang coba dibajak oleh banyak
orang untuk sekadar mewarnai kreativitas gaya hidup anyar demokrasi anyar.
Suatu petang magrib di Balai Rakyat Matraman, di base camp saya di sebelah kampus
Universitas Islam Jakarta (UIJ), frasa Madani tadi diulang-ulang oleh para
Korlap Demo FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta), KAMURRI (Kesatuan
Mahasiswa Untuk Reformasi Republik Indonesia), dan FORKOT --- yang bekerja
sebagai peneliti saya, usai bulan-bulan ganas anarkis yang lalu melengser rezim
Soeharto, 1998, dan yang telah membuat bidang usaha riset saya itu bangkrut.
Lebih semusim monsoon
di Madura sejak Reformasi, Madani beroleh curah tuma’ninah anak-anak muda itu, berupa penjelajahan etimologis -
epistimologis - ontologis, konfirmasi kritis antrop a la usthurah Muhammad
Arkoen, dan emosi ilahiah yang tengah mencari format kekinian keindahan
Rasulullah.
Assesment mereka
serius. Dilakukan via ilmu sejarah dan filosofi madiniyyah hingga asal-wal-usul argu khilafat Shi’at ketika menolak Abu Bakar menjadi khalif karena
dinilai tak mewakili ahklak.
Para “mahasiswa demonstran” itu, sebagian besar ialah
peneliti pemula, merupakan aktivis FKSMJ, mahasiswa Cipayung, kelompok Usro’
dari UI, IKIP Jakarta, IAIN, KAMMI, dst. Jauh hari, mereka telah terlibat dalam
proyek penelitian saya, dengan upah kecil, yang lalu dihabiskannya untuk ongkos
menuju demo sejak Orba hingga Reformasi.
Manajemen mengambil beleid untuk mendorong mereka agar mampu
mendulang pengetahuan detil tentang data, metodologi, teknik analisis,
substansi kegiatan ilmiah riset, dan yang tidak, untuk keperluan pragmatis.
Subtansi itu, adalah pemahaman detil “apa” yang diteoremakan
sebagai “development” dalam postulat
Orba yang, alergi komunis dan sayap radikal Islam Indonesia demi sakralitas
konstusi dalam menjaga status quo.
Tak mudah memahami pembangunan negara Orba. Argu pemahaman
detil Trilogi Pembangunan Nasional dalam data
processing, nyatanya berfungsi efektif mencuci otak “mahasiswa demonstran”
dalam rangka mengakselerasi proses metamorfosisnya untuk membiak jadi “kader
parlemen jalanan yang sangat militan”, justru karena memahami masalah dengan
baik.
Fakta pula, mereka itu pengusung frasa Madani. Belakangan,
anak-anak muda itu dijuluk ordo sejarah: Angkatan 98. Kiranya jelas korelasi
eksistensial Angkatan 98 dengan gerakan Madani, dan siapa Angkatan 98.
Mereka seolah merujuk naskah SAYMEI yang saya tulis,
akronim: SAYA DI BULAN MEI - menutur tentang Tionghoa yang dibunuh dan
diperkosa secara biadab yang juga tak mampu kita bela. Jadi, frasa Madani
dengan cepat berubah menjadi idiom Anti Biadab.
Idiom adalah bentuk akhir kesempurnaan digjaya simbol
komunikasi verbal manusia yang tak butuh presentasi detil. Sampai di situ, Madani
sudah generik. Tak peduli agama apa pun saat itu, nyaris semua lapis publik
mengkonsumsiMadani sebagai icon karyanya: sebuah identitas.
Madani menjadi mode, motoris, mencapai zona elit publikasi
pasar tingkatbranded, juga dipicu mayat si Musa dan Elang Permana Cs yang tak
mampu kita bela. Madani, tak lagi sekadar komunikasi merk produk yang harus
dipajang. Luar biasa!
Arti Madani sama dengan madiniyyah
ialah beradab. Rasulullah mengambil kata itu untuk mengganti nama kota Yatsrib
menjadi Madinah. Artinya “kota yang beradab”, ialah ketika Rasullullah
memberlakukan prinsip kepemimpinannya berdasarkan Trisila Piagam Madinah
(Madani Makki): (i) Ukhuwwah Islamiyyah,
(ii) Ukhuwwah Bashoriyyah, (iii) Ukhuwwah Wathoniyyah. Yaitu, kerukunan
hubungan Muslim - Muslim, Muslim - NonMuslim, Muslim - Asing, ialah terminologi
“rahmatan lil ‘alamin” dalam wahyu
Madinah - sebuah sistem pemerintahan.
Sebelumnya, kota-kota itu berada dalam suasana jahiliah, jahat, bengis, tak beradab.
Dengan momentum Piagam Madinah, Rasulullah mengubah kota biadab Yatsrib menjadi
kota beradab, kota dengan satu adab, kota dengan kepemimpinan berkepastian
hukum.
Namun yang diabsah oleh Majelis Subuh, adalah Madani Nabawi,
dalam gerakan Rasulullah, ditandai peletakan pedang kembar sebagai simbol Islam
selaku ad-daulah, dengan perintah
utama pembersihan musyrik (internal).
SAYMEI adalah deskripsi saya tentang perjalanan
Angkatan 98 di kota Jakarta yang tak beradab, ibukota yang memanggang
hidup-hidup ribuan warga negaranya dengan alasan politik. Icon Madani
berkembangbiak sejak tragedi panggang-memanggang itu, merupakan gerakan
filosofi paradoksal di puncak peristiwa langsernya Pak Harto dari kursi
kepresidenan 21 Mei 1998.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar