SAMPAI di scene ini, meski atas nama Rasulullah dan sesama
Sunni, saya tak yakin NU dan Muhammadiyah bisa bekerjasama. Sebab, sejarah
belum pernah mencatat sukses kerja sama seperti itu, terhitung sejak tragedi
Komite Hejaz tahun 1925 yang dipimpin KH Achmad Dahlan (dedengkot Muhammadiyah)
dan KH Hasyim Asy’ari (dedengkot NU).
Yaitu, proyek penyampaian proposal kepada kandidat Amirul
Mukminin, Raja Saudi, King Ibnu Saud ---kandidat Putera Mahkota Khilafat Islam
versi Dewan Mahkamah Agung Islam terakhir (1924)--- ialah kakek King Abdullah
kini, agar Khalif tak mengubah fatwa untuk Islam Hindia Belanda.
Namun yang terbit kelak, fatwa yang menganak-emaskan Wahabi,
tamat ketika proyek Khilafat Islam itu dikubur sendiri oleh Ibnu Saud atas
desakan Détente, sekutu pemenang Perang Balkan (PD-I) atas Entente (Ostmany +
Jerman) yang diatur oleh Traktat Versailles yang sangat merugikan Entente; yang
membuat Hitler mengganyang habis Yahudi, arsitek Versailles itu.
Merasa diperlakukan tak adil, dimulai dengan perseteruan Wahabiyah versus Asy’ariyah, Hasyim Asy’ari ke luar dari “sekoci bersama” bernama
Muhammadiyah itu, dan mendirikan NU tahun 1926. Sampai kini tetap talak tiga.
Merujuk sejarah itu, dialektis yang dilakon Amien Rais cocok
mujid-nya, ‘illat versus ma’lul, ba’its versus mujib, maka as-sababiyyah-nya pun bukan membantu Gus
Dur. Tapi sebaliknya, ia dulang opportunity
dengan cara mengubah kondisi kritis Gus Dur menjadi blessing in disguise untuk kepentingan politiknya dan menghasilkan
duet Amien Rais (Capres) - Susilo Bambang Yudhoyono (Cawapres) yang bubar
dengan alasan remeh temeh (Rasulullah dilawan, sich! ).
Kedengkian terbawa dari sononya pula. Sebab, saya tak
temukan proses islah. Jadi, Bulog Gate, dramaturgi
miss-management Rp 30 miliar itu bukan didesain ke deponeering litigasi yang tersedia dalam opsi-opsi ushul fiqh sebagaimana kaidahnya untuk
memenuhi amanat Madani.
Melainkan ke ranah pembantaian, di-blow-up, “blup”, lalu
digiring ke “Peradilan Senayan” memakai power
kekuasaan legislative heavy MPR yang
tengah uforia arogansi penggulingan diktator Orba.
Coba ingat lagi fase moral sebelum itu, para pemimpin RI ---naik
menggunakan kriterium ahklak, menjadi penguasa reformasi ketika mereka belum
kaya, mewakili akhlak, baik Gus Dur maupun Amien Rais--- sedang berubah sangat
cepat dan menakutkan ketika Madani terbunuh.
Saya masuk PAN sebelum itu, terperdaya oleh dua frasa dalam
bahasa promosi Amien Rais yang indah: (i) Madani, dan (ii) Tauhid Sosial yang,
sejak Gus Dur lengser, tak pernah lagi disebut.
Sidang Istimewa MPR menghabisi Gus Dur dengan cara
memalukan, walau pengadilan menyatakan ia tak bersalah. Tentu saja, tak pantas
Gus Dur dihinakan seperti itu, setidaknya karena ia bukan pendosa Reformasi,
bahkan telah menjadi korban tirani kekuasaan sepanjang Orba beserta keluarga
NU-nya, paradoks dengan keluarga Muhammadiyah.
Dengan bahasa politik efumisme Orba, mengapa Antum tak berpikir, bahwa dalam kondisi
sudah buta pun, Gus Dur masih rela mengabdikan diri untuk menerima jabatan
presiden, tatkala semua orang tak berani memangku jabatan tersebut, termasuk
Amien Rais dan Megawati.
Bagaimana pun hebatnya Gus Dur, ia tak lebih dari manusia
dengan empat indera. Toh, dengan kesadaran penuh, parlemen, termasuk Amien Rais
dan Islam Poros Tengah, mengangkat manusia empat indera itu jadi Presiden RI
yang ke III. Aneh, ketika merespon kesalahan pada Dramaturgi Bulog Gate, tak
tampak kesadaran “empat indera” itu pada manuver orang-orang yang dulu
mengangkat Gus Dur sebagai “presiden dengan empat indera”. Sadis!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar