Selasa, 07 September 2010

“Psywar”, Belajar dari Try Sutrisno


Krisis diplomatik Indonesia - Malaysia kembali marak. Kebalikan dengan pandangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menghendaki penyelesaian damai, kondisi di lapangan, rakyat sudah sampai pada penyelesaian secara perang. Tampaknya, perang dan martabat bangsa, adalah dua sisi tubuh tunggal yang tak terpisahkan, diperlukan kreativitas lebih untuk menghindari perang yang mengerikan tanpa harus kehilangan martabat. Krisis serupa pernah terjadi antara Indonesia - Australia.

Kamis, 01 Oktober 2009

Tomy Soeharto Ketum DPP Golkar?


Haqqul yaqin, sudah pas banget. Ikhwalnya, pers memuat kesiapan Tomy Soeharto untuk jadi Ketum DPP Golkar. Dahsyat, tapi tak mudah. Tommy terganjal AD/ART, bersebab ia belum kunjung memangku ketua DPD maupun DPP. Namun, sepanjang mayoritas kongres menghendaki Tommy jadi calon, requirements AD/ART tadi bisa dilampaui di Tatib Munas. So, hipotesa harus dijawab: mengapa mayoritas harus memilih Tommy Soeharto?

Rabu, 27 Agustus 2008

10 Tahun Reformasi: Demokrasi Lapar Duit, Lahirkan Agamawan Koruptor (Tulisan 4)




POSISI kekuasaan presiden versus legislatif, sangat jomplang: presiden minus kekuasaan, sedang legislatif surplus kekuasaan. Bersedianya PDIP masuk dalam pendongkel Gus Dur, telah mematangkan Sidang Istimewa Penggusuran Gus Dur final.

10 Tahun Reformasi: Tak Mungkin NU dan Muhammadiyah Bisa Berkerjasama (Tulisan 3)



SAMPAI di scene ini, meski atas nama Rasulullah dan sesama Sunni, saya tak yakin NU dan Muhammadiyah bisa bekerjasama. Sebab, sejarah belum pernah mencatat sukses kerja sama seperti itu, terhitung sejak tragedi Komite Hejaz tahun 1925 yang dipimpin KH Achmad Dahlan (dedengkot Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (dedengkot NU).