Kamis, 01 Oktober 2009

Tomy Soeharto Ketum DPP Golkar?


Haqqul yaqin, sudah pas banget. Ikhwalnya, pers memuat kesiapan Tomy Soeharto untuk jadi Ketum DPP Golkar. Dahsyat, tapi tak mudah. Tommy terganjal AD/ART, bersebab ia belum kunjung memangku ketua DPD maupun DPP. Namun, sepanjang mayoritas kongres menghendaki Tommy jadi calon, requirements AD/ART tadi bisa dilampaui di Tatib Munas. So, hipotesa harus dijawab: mengapa mayoritas harus memilih Tommy Soeharto?

Contoh shortcuter, antara lain, saudaraku Sutrisno Bachir, Ketum DPP PAN kini. Tahun 2006, Bachir direferensi Amien Rais. Ia berhasil mengungguli score Fuad Bawazier di Kongres II PAN Semarang, di mana saya terpilih jadi Formatur. Kalah, lalu keluar dari PAN, tahun 2008, Fuad bikin Partai Hanura (bahasa arabnya Hati Nurani = Fuad. Nurani di situ bukan Qolbu, sic). Walhasil, Partai Hanura = Partai Fuad Bawazier, he, he, he.

Hadi Utomo, Ketum DPP Partai Demokrat, juga shortcuter. Banyak lagi. Secara literer, metode demikian, berasal dari diskursus “Organisasi Kader” pada “Manajemen Kader” dalam rangka soliditas manajemen: senioritas, ideologisasi, kesinambungan goal, sakralitas peraturan, hukum, disiplin, dan doktrin, berbasis dua ilmu: (i) analisis Ilmu Organisasi, dan (ii) analisis Ilmu Manajemen.

Mari kita memutar sedikit untuk menjelaskan relasi primitif Organisasi Kader, yang kedaluarsa untuk Orde Reformasi. Paradigma tadi, ternyata benar di suatu masa, pasnya hingga 1994. Dan, keliru di masa lain -- mulai kehilangan validitas ketika 1993, teknik Reengineering Management (RM) muncul dan berkembang menjadi mazhab mondial baru tentang organisasi binis dan publik, serta manajemen bisnis dan publik.

RM mengorbit spektakuler, seolah nebeng trend hilir demokratisasi (Glassnot) dan keterbukaaan (Preistroika) Timur ketika negara sosialis bubar, dan rame-rame pindah ke kapitalis. Sekaligus mensubsitusi semangat Barat via APEC 1994 yang mengubah badan bisnis PBB, Uruguai Round menjadi WTO untuk membungkas pakta free trade, AFTA dan NAFTA sebagai demokrasi baru ekonomi ala Neo Classic III. Jadi, mulai 1995, bumi sudah berada di bawah titah rezim tunggal ekonomi pasar, mengenalkan sosok Demokrasi Kapitalisme Neo Classic III yang sama sekali lain: liberalisme reborn! The Neo!

Di Indonesia, nama lain Neo Classsic III diderma pula oleh Amien Rais. Yaitu: “Neolib”, dikemukakannya pada awal pilpres di televisi, seraya menunjuk Cawapres Budiono sebagai biangnya. Yakin? He, he, he.

Ciri Neo Classic, baik jilid I, II, dan III, adalah pengurangan peran negara dalam ekonomi, termasuk rezim Moneteris yang dianut dunia kini. Jika mau menambah peran negara, ya, harus kembali ke Keynesian. Hanya itu toh, opsi yang tersedia di atas bumi? Lebih menawan, sejak 1994 Komunis mati, Sistem Perencanaan Ekonomi Terpusat Sosialis bangkrut, lalu negara-negara Uni Soviet rame-rame mendaftar jadi anggota mazhab Kapitalis Neo Classic yang sama, termasuk RRC.

Nah, kalau Antum tak puas, bikin teori sendiri sajalah. Syaratnya ready use, punya jamaah homo ekonomikus minimal 2/3 bumi, plus sejarah akademi Aksiologinya. Jika tidak, teorema “bikin sendiri” itu beresiko tak link and macth dengan sistem global. Apa jadinya NKRI? Apa masih bernama negara kalau sendirian? He, he, ha, ha, hi, hi.

Andai Keynesian I tak bangkrut oleh Resesi Dunia 1983, penerbitan M1 (JUB) dijamin dengan emas bantalan di Bank Sentral, niscaya juga Glassnot dan Preistroika dari pikiran Moneteris itu, juga nihil. Sebab, legitimasi Keynesian atas peran negara yang membuat peran negara terus kukuh, sebaliknya peran masyarakat sipil marginal, dan demokrasi tumbuh di ranah as-if alias yahannu alias pura-pura. Niscaya juga oligopoli pasar dan proteksionisme dunia tak hancur, andai peran negara tak diharamkan oleh Neo Classic, yang di penghujung 1985, umumnya negara Keynesian tadi sudah menjelma fasis non-militer (negara membebaskan sipil berbisnis tapi di bawah pengawasan ketat negara).

Sejumlah pakar, menempatkan kebangkitan Neo Classic III itu pendorong demokratisasi dunia, akibat logis teknik perspektif Moneteris yang menggantikan Keynesian I, awalnya dipicu krisis fiskal Resesi Dunia 1983, tanpa menyebut demokrasi, di Indonesia ditandai liberalisasi perbankan, pembukaan pasar bursa, go public, divestasi, privatisasi, masih ala Keynesian II campur Neo Classic III.

RM, adalah produk Neo Classic III, telah melapukkan metode Keynesian II, menandai berlangsungnya revolusi perspektif Ilmu Manajemen dan Ilmu Organisasi, metode “turun mesin” dari hilir ke/hingga hulu. RM juga menunjukkan bahwa diskursus tentang Organisasi Kader, dan Managemen Kader merupakan masa lalu yang telah dipakai ketika dunia, baru sampai pada tahapan mampu berdemokrasi pura-pura, masa paradigma Keynesian II belum gulung tikar.

Demokratisasi yang dibawa serta Neo Classic III di ranah politik Indonesia via reformasi, faktanya telah melenyapkan prototipe Organisasi Kader dan Manajemen Kader dari zaman Keynesian II. Tengok saja di ranah publik, sejak reformasi, siapa pun bisa menjadi apa saja, sejak wali kota hingga presiden tanpa harus lewat jenjang kader dan pengkaderan. Syaratnya cuma satu: menggunakan demokrasi prosedural!

Tentu saja, bicara metodologi, Neo Classic III, merupakan sejumlah revisi, kumpulan data empiris Keynesian, Neo Classic, lainnya, bahkan argu dari Ekonomi Perencanaan Terpusat Sosialis yang diaktualisasi.

Agaknya Tommy Visioner

Kembali ke masalah pokok, mengapa mayoritas harus memilih Tommy Soeharto? Tesis dan diksi itu menarik hati. Terakhir saya sepanggung dengan Tommy, 10 bulan lalu, di forum pengajian Wahdatul Ummah yang dipimpin Agus Miftah, membahas sayap radikal Islam Iran dan Traktat Hudaibiah.

Tommy bicara nasionalisme, demokrasi, Otoda, kemandirian bangsa, dan Islam. Ia hebat, di samping aura pengaruhnya yang harus saya akui sangat besar, idealismenya tampak kian bernas berkat kedalaman pemahaman masalah bangsa dengan cara yang unik, telah membuat penampilannya visioner yang sulit ditandingi.

Saya kira, ia matang dengan prima. Saya kira kematangan itu diderma renungnya yang diprosesi oleh empiris luar biasa, sejak peran the man behind the gun, penguasa puncak yang ditakuti dan disegani, berubah jadi orang paling kalah, dihina, disiksa sebagai nara pidana, lalu di-character assasination seantero nusantara.
Tommy sudah tamat belajar ilmu langka yang jarang dipelajari orang lain itu untuk menjadi pemimpin bangsa yang visioner di masa depan. Saya melihat pengalaman sejumlah tokoh besar dunia ketika mereka lahir, mirip seperti perjalanan Tommy: salah, jatuh, bangkit, dan benar.

Ketika saya bersua wajah, saya kok yakin bahwa Tommy sudah paripurna untuk reborn, yang sama sekali lain dari sosok kritikal masa lalunya. Tak ada alasan bagi mayoritas – bahkan yang bukan Golkar – untuk menolaknya jadi pemimpin bangsa andai mampu memandangnya secara kritis. Apalagi mengaitkannya dengan stigma masa lalu.

Tommy pasti bukan barang baru bagi bangsa ini. Juga bagi saya, yang 20 tahun tiap hari menulis sejarah kekuasaan di ranah pers, selama 13 tahun memimpin riset, lima tahun di parpol, kini coba menakwil Tommy sebagai bagian dari masa lalu yang bakal hadir di masa depan. Ia lebih tua setahun dari saya, secara naturalis, 2014, adalah masa puncak generasi usia kami.

Tommy kini, jelas lebih reformis dibanding calon lainnya, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, bahkan Jusuf Kalla. Coba tengok JK ke belakang, Bukaka besar karena Tommy, Bakrie besar juga karena Tommy, sejak Bakrie masih perusahaan keluarga. Surya Paloh juga besar karena Tomy, sejak sebelum bisnis Catering di rig-dual itu, hingga ke minyak bumi. Tak ada reason, mereka lebih baik daripada Tommy.

Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1975) adalah demo anarkis menyambut Perdana Menteri Jepang, Tanaka, untuk mengkritik monopoli mobil Jepang di pasar nasional berikut KKNnya, yang memenjarakan Hariman Siregar CS, menghapus DEMA (Dewan Mahasiswa), mencopot Pangab Jenderal Sumitro, merupakan masalah krusial kekacaunan industri otomotif.

Toh, 15 tahun kemudian, tak ada pelajaran yang dipetik dari Malari, ATPM tak berhasil memproduksi mobil Indonesia, apalagi untuk melawan sistem monopoli merk asing. Baru Tommy, orang Indonesia pertama yang melakukannya perlawanan itu dengan Mobnas. Apapun argumen Antum, faktanya Tomy lebih dulu mewujudkan kemandirian bangsa yang heboh banget dibicarakan dalam kampanye Pilpres.

Baru Tommy pula yang berani melawan oligopoli referensi The Big Four (Gudang Garam, Djarum, Djisamsu, Bentoel), dengan cara mengalihkan stock cengkeh pabrikan untuk digarap koperasi yang tadinya monopoli supply pabrikan hingga ke hilir.

Di sektor makro, peran pembaharuan Tommy pada kebijakan Dewan Moneter (Menku + BI + Departemen Teknis) cukup terang, lalu di bursa (M3, M4), ia coba memperkuat eksistensi koperasi yang senantiasa marginal itu. Saya seksama, bahwaTommy paradoks: mana ada kapitalisme prokoperasi (self help or mutual), ketika trend hukum pasar adalah praktik oligopoli dan closing product?

Tommy menggunakan kekuasaan Pak Harto – ayahnya -- untuk melakukan itu, yes! Hebatnya, hasil analisis JMC Research, serta merta pula ia menafikan trickle down effect dari Developmentalist Mafia Berkeley a la The Stage of Economic Non-Communist-nya WW Rostow, yakni 116 MNC Konglomerat Mesin Ekonomi Soeharto (termasuk MNC kelompok JK dan Bakrie) yang dibentuk pada masa usia Tomy masih remaja banget (1976 – 1980).

Masalahnya, mesin itu gagal melaksanakan Diksi Ketiga target politik Trilogi Pembangunan Nasional. Yaitu, meratakan ekonomi. Plus gagal pula mendorong tokoh ekonomi pribumi ke papan atas. Kegagalan itu yang diisi Tommy.

Oligopoli pasar, zaman itu, bukan milik rezim Soeharto an-sich. Melainkan berlaku mondial, substansi metodologi marketing internasional yang, dipelajari ekstensif di semua program studi MBA, MM, dan sejenisnya di semua universitas dunia. Semua produk pasar, dibikin close systems: Antum tak boleh jualan komputer merk lain tanpa IBM-DOS, Apple Mac, Super Computer, dipastikan segera terbunuh di pasar. IBM bahkan mengekspor langsung produknya dari markas besarnya di San Diego ke seluruh dunia saking tertutupnya produk itu, untuk sekadar memelihara captive pasar oligopolinya.

Saya pikir, yang penting dicatat adalah perlawanan Bill Gates terhadap sistem pasar oligopoli global itu. Faktanya, market oligopolis IT, rusak berat saat Bill Gates melawan dengan MS-DOS yang relatif open product. Itu, contoh kecil cengkeraman otoritarianisme dunia ala Keynesian terhadap birokrasi, politik, hingga pasar, tak luput RI, baru berakhir 1993, seiring punahnya Uni Soviet digilas trend demokratisasi Glassnot & Preistroika-nya Gorbi, Presiden Gorbachev.

Badan Bisnis PBB, Uruguai Round, via APEC di Jakarta 1994, berubah WTO, juga demam demokratisasi, menerbitkan free trade: AFTA dan NAFTA. Tahun itu, negara komunis juga rame-rame pindah dari Sistem Perencanaan Ekonomi Terpusat Sosialis ke Sistem Kapitalisme Moneteris, pasnya Ekspektasi Rasionalnya Milton Friedman, atau Neo Classic III, belakangan dipopulerkan Amien Rais sebagai Neolib.

Akar masalah: keunggulan metode kapitalisme Keynesian II, adalah kiat pasar oligopoli dengan instrumen: monopoli, gentleman agreement cartel, harga yang didikte, praktikum barrier to entry (rintangan masuk pasar), bisnis dilindungi penguasa setempat, fasilitas pajak, jaminan upah buruh murah (comparative advantage), kemudahan investasi MNC negara donor, hingga praktek penyimpangan Negative List Of Investment, boleh berhutang sebanyak-banyaknya, adalah perilaku Keynesian II yang mestinya sudah bersih 1986, tapi tetap eksis 10 tahun kemudian yang memperhebat Efek Domino, Juli 1997. Bahkan, hasil penelitian JMC Research yang saya pimpin bersama SKH Bisnis Indonesia terhadap 1000 perusahaaan di Jalan Thamrin Jakarta, 1997 – dua bulan sebelum Effect Domino Juli 1997, korporasi malahan mengeluarkan antara 28- 43 persen untuk “X” Cost.

Saya tak yakin tudingan perusahaan Freemansonry (organisasi bisnis bawah tanah Yahudi yang beranggotakan 286 perusahaan papan atas dunia, al, Goldman, UBS, Chrysler, GM, Soros, sebagian besar perusahaan yang menciptakan global crisis AS 2008), bahwa Tommy memiliki dana curian Rp 600 T, karena hingga hari ini, tak ada buktinya. Cuma rumor!

Lagi pula, Rp 600 T dengan kurs tahun itu, Rp 2.200, sama dengan empat kalinya, sekitar Rp 2,4 Billiun. Tak masuk akal, nonsense. Sebab, menurut Revrisond Baswir dalam Mafia Berkeley, dana talangan BLBI saja cuma Rp 630 trilliun, hebohnya bukan main sampai kini. Sementara cadangan devisa saat itu, cuma 5 miliar USD. Illogic, nonsense, tak masuk mantiknya. Tapi bagus untuk kepentingan manuver character assasination Orba. Lagi pula, kalau ia punya Rp 2,4 billiun, untuk apa Tommy harus ngotot mencairkan simpanan Rp 100 miliar di Bank Paribas, Perancis, yang berakibat tiga petinggi Kabinet Bersatu direcall/remove? 

Sekalipun begitu, saya tetap berdoa mudah-mudahan dana Rp 2,4 biliun itu ada, agar ketika Tommy jadi Ketum DPP Golkar, dapat dikerahkan untuk menerapkan visi dan idealismenya yang visioner tadi guna membangun demokrasi subtansial.

Kita toh sudah tak mungkin menyeret-nyeret dosa-dosa Orba dibahu Tommy, apalagi dibumbui dengan idealisme reformasi yang praktikumnya sangat mengecewakan itu, karena faktanya gagal setelah dikhianati sendiri oleh tokoh-tokoh reformasi, dalam banyak substansi, lebih jorok daripada Orba.

Saya juga berharap, Tommy bisa belajar banyak tentang anti korupsi dan praktikum tiga unit krusial dari 10 unit Washington Consensus dari rezim SBY – Budiono lima tahun ke depan, seperti apa, sebab dari tiga pasang capres 2009, cuma pasangan itu yang berkampanye anti korupsi, plus algemenee beginselen van behorlijk bestuur. 

Tommy, Neolib, Neo Classic

Ini adalah kisah tentang rezim-rezim liberalisme yang berhubungan dengan kisah Tommy, Neolib, dan Neo Classic yang bagi banyak orang, senantiasa keliru paham. Liberalisme awal adalah Neo Classic I, ialah Adam Smith sendiri, pencipta hukum ekonomi pasar tipe Tangan Tak Terlihat / Invisible Hands. Terminologi kata liberal, berasal dari kalimat liberalisme ekonomi, ialah para penganut paham ekonomi Adam Smith yang memerintahkan kekuasaan dan siapa pun, wajib menjaga harmoni mekanisme pasar, yaitu kebebasan kekuatan penggerak supply – demand pasar agar maksimal menciptakan value added. Kekuatan tadi, dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments (1759), oleh Adam Smith dinamai Tangan Tak Terlihat. Sementara value added adalah subtansi Invisible Hands dalam membangun postulat dasar Negara Kesejahteraan. Teorema Negara Kesejahteraan, dijelaskan Adam Smith di buku keduanya (magnum oppus) An Inquiry Into The Nature And Causes of The Wealth Of Nations (1776), di mana Neo Classic I, percaya adanya manifestasi Pasar Persaingan Sempurna yang, telah lenyap dari muka bumi sejak masa negara modern.

Neo Classic II merupakan Revisi ke I atas teorema Invisible Hands-nya Adam Smith yang dimotori Sraffa, Joan Robinson, dan Chamberlain abad 18. Neo Classic II, adalah juga reaksi atas buku Karl Marx, Das Kapital (1867), subtansinya ialah kritik terhadap filsafat Ekonometri Neo Classic I, khususnya relasi Value Added dengan Negara Kesejahteraan. Setelah berjaya selama dua abad, tahun 1929 Neo Classic II gulung tikar karena tak berdaya mengatasi krismon Great Depression AS. Ia segera digantikan rivalnya utamanya, yaitu pikiran John Maynard Keyns berupa postulat baru hukum ekonomi pasar dengan tipe Tangan Terlihat /Visible Hands, kebalikan Adam Smith.

Keyns versus Adam Smith, diametral habis. Kutub ekstrim keduanya, sbb: metode bikinan Maynard mengabsah campur tangan negara atas pasar. Sedangkan metode Tangan Tak Terlihat bikinan Adam Smith, mengharamkan campur tangan negara atas pasar. “Faktanya, kita butuh Invisible Hands. Tapi ketika Invisible Hands itu menghancurkan kita, kita butuh Visible Hands yang mampu melumpuhkan daya penghancur dalam diri Invisible Hands”, komentar Maynard.

Keynesian bikinan awal Maynard dinamai rezim Keynesian I. Selain Maynard sendiri, tercatat pengemukanya Harry Dexter, Wakil Presiden AS pada Kabinet Presiden Truman dan Roosevelt. Keynesian hadir saat serangan hebat Black Tuesday ke Wall Street. Sementara Dexter yang ekonom Oxford, juga terlibat jauh penciptaan postulat itu, mengajak Maynard melawan Great Depression dengan metode Tangan Terlihat.

Paradigma kontroversial itu sukses besar, mampu menahan gejolak ketika Maynard menutup 140 bank untuk menghentikan efek domino. Menurut Galbraith, bahkan berhasil mereformasi Wall Street dengan perspektif Ekonomi Kerakyatan. Namun yang monumental, ketika Maynard mendirikan World Bank dan IMF selaku manifestasi Tangan Terlihat. Awal pendirian, World Bank berhasil menghimpun dana intervensi pasar dari 92 negara, anggota awal IMF. Oh ya, semua kisah ini, hanya di belahan negara Kapitalis Barat, negara sosilis, Uni Soviet, belum ikut.

Terbukti mustajab, cepat, dan cemerlang kerja Tangan Terlihat Keyns itu dalam pemulihan dan penyehatan ekonomi AS, yakni hanya dalam kurun empat tahun, 1929 – 1933. Berkat sukses itu, 60 tahun berikutnya, kebenaran dan kompetensi Keynesian tak tertandingi. Sejak itu, liberalisme yang sejati sebenarnya sudah mati, yang ada pemain pasar oleh negara selaku pebisnis, tapi juga telah memajukan metode bank sentral dalam pengelolaan ekonomi makro oleh negara, khususnya tentang ekspansi dan konstraksi selaku identitas peran negara ke dalam pasar. Dalam kondisi itu, demokrasi jelas terpenjara di negara kapitalis, apalagi di negara sosialis.

Di era 1980-an, trend peran negara tadi menelurkan pemain pasar sebagai alat negara yang mengembangkan kiat proteksionisme negara – di Indonesia sebanyak 116 MNC (Multi National Corporation) papan atas jadi penggerak Mesin Ekonomi Soeharto untuk merealisasikan pikiran pemuka developmentalis WW Rostow di proyek Repelita dari Rockefeller Foundation (Harvard) itu. Data 1997 menunjukkan mereka menguasai 64 persen PDB. Kebijakan negara itu, mengikuti trend proteksionisme mondial oleh kapitalisme negara sponsorship Perang Dingin Sekutu Kapitalisme, telah memperparah kepincangan struktur ekonomi Barat versus Timur yang kian tertinggal (development countries).

Para Keynesian percaya, berkat revisi terus-menerus untuk menghadapi situasi paska PD II dan Perang Dingin 1970-an, postulat Keynesian mampu memecahkan pergolakan ekonomi yang bagaimana pun, sepanjang peran negara masih dominan. Hasil Revisi ke I, disebut Keynesian II, turunannya malah lebih populer, terkenal dengan nama mazhab Ekonomi Pembangunan (Developmentalist Regime). Yakni rezim yang didominasi peran negara, yang 25 tahun terakhir dipelajari secara khusus di Fakultas Ekonomi di seluruh dunia.

Perspektif Developmentalist yang monumental, karena berangkat dari kebutuhan modal pembangunan Dunia Ketiga (Development Countries), telah mengabsah praktikum neraca keuangan secara siklus, mengizinkan negara boleh berutang sebanyak-banyaknya saat krisis, membayar utang pada saat booming dengan menyetel pajak-pajak. Praktis mengubah logika dalil S=I, menghadirkan format baru neraca pembayaran dan standar akutansi, serta berbagai pola penyerapan modal luar negeri untuk investasi, plus memasukkan Green Economic dan manusia sebagai faktor investasi lebih dari konvensi dalil M3 (Money, Machine, Man) seiring dengan naiknya pamor human rights.

Sebaliknya, dalil-dalil itu menjadi subtansi analisis pengemuka Neo Classic III, dimotori seorang bankir dari Chicago bernama Milton Friedman – kelak ia dikenal sebagai tokoh Revisionis jilid III atas postulat Invisible Hand-nya Adam Smith. Rezimnya bernama Neo Classic III, kini mendominasi pikiran ekonom dunia dalam rangka mencari pembenaran pendekatan berbagai model analisis untuk tindakan ekonomi, terutama karena berangkat dari kegagalan postulat Keynesian II. Yang tetap bertahan, ialah pengurangan peran negara atas pasar dalam berbagai revisi yang dulu ternafikan, pengembalian kekuatan otoritas Invisible Hands dalam persamaan matematika ekonometri aktual. Pakar ekonomi, Krugmann dan Stiglis, dalam artikel-artikelnya, menjuluk Neo Classic III dengan banyak nama. Antara lain, Sistem Moneteris, mazhab Ekspektasi Rasional, rezim Supply Side, tapi tak menyebut Neolib.

Baru 1983 pikiran Neo Classic III kembali dianut, menggantikan rezim Keynesian II yang bangkrut karena tak berdaya mengatasi Krisis Fiskal Resesi Dunia 1983 akibat rusaknya sistem Supply Side pasar dunia yang sudah diingatkan oleh kaum Moneteris jauh sebelumnya. Tapi, penelitian Prof Horton dan Hunt dari Michigan University mengemukakan, metode Keynesian masih dipakai di banyak negara hingga 1986, terutama untuk melegitimasi penyerapan hutang luar negeri sebanyak-banyaknya. Sementara, rezim Ekspektasi Rasional menyatakan tak ada harapan rasional pada hutang, karenanya tak boleh berhutang, sebagai gantinya, perusahaan harus dibiayai oleh konsumen (go public), bukan oleh hutang.

Oh ya, rezim-rezim ekonomi tadi, tak lebih memang dari angka-angka persamaan Aljabar Ekonometri. Dipanggil rezim Supply Side, misalnya, sebab presentasi Reaganomic dalam pemulihan Resesi Dunia 1983, didominasi postulat Milton Friedman CS, yang sejak 1970-an mensimulasikan matematika siklus krisis besar ekonomi dunia, berupa krisis berkepanjangan oleh inflasi, pendapatan yang terus berkurang (DMR), distorsi ekonomi hebat akibat peran negara dalam Perang Dingin yang harus segera dihentikan, secara teoritis dipicu kesalahan postulat makro Keynesian dari sisi Supply - bukan dari sisi demand sebagaimana keyakinan Keynesian.

Oleh Djoko Edhi S Abdurrahman SH
(Direktur Penelitian JMC Research, Ketua ITW, Sekjen TRIPS Watch, Politisi PPP) 

Tidak ada komentar: