Musim dingin sudah
hampir habis di Washington DC, Virginia. Sebentar
lagi kembang-kembang segera mekar. Tapi di beberapa kota perbatasan Arizona,
gumuk-gumuk es (snowball)
masih akan berdiri sebulan lagi. Jadi, anak-anak pun piknik ke sana, mengukir snowballmenjadi
patung nenek penyihir, hingga es meleleh habis, bulan depan.
Snowball asli di Amerika Serikat
memang indah dan menggembirakan. Tapi tak diketahui pasti siapa yang mula-mula
menggunakan metafora idiom bola salju sehingga bertebaran dalam banyak disiplin
ilmu. Toh, yang paling gemar satu dekade belakangan adalah para medik, untuk
suatu keadaan mengerikan:
menunggu Godot (maut).
Tak
percaya? Tahun 1993, saya meneliti tentang HIV/AIDS bersama Majalah Tiras di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Universitas Tarumanegara, dan Universitas Trisakti.
Semua dokter, dokter muda, dan calon dokter di situ menggunakan istilah serupa
begitu ditanya jumlah penderita AIDS yang, ketika itu tak ada pencegahnya: “snowball!”
Dihitung sih, dikit.
Jumlah penderitanya sendiri berlipat dibanding statistiknya. Yang tak diketahui
itu, meninggal tanpa pernah bersentuhan dengan para medik. Praktis, datanya
raib, tanpa rekor. Ooo, itu rupanya yang
disebut bola salju: luarnya tampak rapuh dan indah, dalamnya membatu, hingga
bisa diukir menjadi patung nenek sihir. Makanya, pakai kondom kalau berzinah.
Sekadar cipokan hingga basah-basah dengan
penderita, dijamin tidak ketularan!
Bulan
kemaren, yang menemukan snowball, bukan saya.
Tapi rekan saya dari PAN, di Gedung DPR, Gatot Subroto, Jakarta, yang lagi
berdandan untuk pesta Sidang Tahunan (ST) MPR 2001. Emangnya ada salju atau AIDS di Gedung
DPR?
Nah, snowball yang ini, lain: bola salju di
wilayah politik. Rupanya jauh-jauhari sejumlah orang bergerilya ke sana dengan
cara rumpi, yang intinya menafikan kinerja PAN Jakarta. Tentu saja sasarannya
adalah Ketua Umum DPP PAN, Amien Rais, yang memang berkantor di situ, sementara
tumbalnya ialah DPW PAN DKI Jakarta.
Isu
yang dieksplotir macam-macam. Sahdan,
merugikan nama baik Dewan Partai dan moda political interest PAN, pukul rata. Ringkasnya: kinerja PAN Jakarta
itu, amburadullah! Tentu saja sang rekan lantas
gusar. Soalnya, “Isu itu tak benar. Ibarat AIDS”, katanya, “Isu itu menjelmasnowball.”
Syukurlah
rekan itu tak kurang akal. Ia kumpulkan semua data, lalu dijumpainya Amien
Rais. Entah bagaimana kesudahannya setelah ia jumpa Amien, Senin, pekan lalu,
di sela-sela ST. Ia cuma bilang: “Beres!” Jadi, tak ada patung nenek sihir di
situ?
Rupanya snowball di wilayah politik bagi kawan itu
tak serumit dunia AIDS walau tak seindah di Arizona. Tentu saja saya setengah
setuju. Jadi, kami pun berdebat semalam suntuk. Ya, ampun, terpaksa saya
mengutip sana-sini pendapat pakar untuk memenangkan debat konyol itu. Dari ilmu Kang Djalaluddin Rahmat, saya kutip
komunikasi informalnya. Dari Madam Astrid Susanto, saya ambil
idiom Lasswell yang paling banyak disitir skripsian anak Fisip Universitas
Padjajaran: “siapa yang omong, bagaimana ihwalnya, dan sejauh apa dampaknya?” Et-cetera. He, he, he, saya menang jadinya.
Mau tahu kemenangan saya?
Untuk
melenyapkan efek komunikasi informal, harus dilakukan klaim dua arah sekaligus:
formal dan informal. Tapi komunikasi formal, searah, takkan mampu mengalahkan
efek komunikasi informal dalam kasus itu.
Jadi
rekan itu, saya sarankan menggunakan serangan balik via media formal, sekaligus
jadi Maling Cluring - tokoh sakti mandraguna asal Jombang dalam Babad
Jawa Timuran semasa
jaya-jayanya Istana Trowulan, Abad XII.
Profesional
soal garong-menggarong, Maling Cluring bersenjatakan keris taji ayam jantan
untuk menembus bumi kala tengah menggangsir korbannya. Nah, rekan itu juga
harus kayak Maling
Cluring. Menggangsir snowball tadi, langsung ke inti
terdalam gumuk es yang
membatu itu.
“Kalau
batunya sudah digangsir, otomatis luarnya mencair ‘kan,” kataku, dengan mimik
pura-pura serius. Alhamdulillah, ketika
saya tengokkemarin, ia mulai latihan menjadi
Maling Cluring dan mulai menakik patung nenek tukang sihir. Mudah-mudahan saja
saya benar. He he he.
Rahasia
kemenangan saya sendiri, bukan karena resep Maling Cluring itu. Tapi karena
catatan studi saya tentang proyek Aladin. Saya bongkar kembali file-nya
untuk sekadar bahan retorika bagaimana kesaktian komunikasi informal, yang
harus ia lakukan dalam serangan balik nanti.
Pada
suatu hari tahun 1978, ihwalnya, datanglah Pangkopkamtib Laksamana Soedomo ke
Pamekasan, Madura, berkampanye Pemilu untuk Golkar. Kampanye ini strategis bagi
Golkar. Maklum, sebelumnya terjadi pembantaian sipil di desa Larangan oleh
Armed, karena kepala desa di situ - yang Golkar - berasal dari Armed, diteriaki
maling tengah malam buta. Lalu dicincang ramai-ramai oleh massa hingga tak
berwujud jasadnya. Karuan saja Armed dari Surabaya amuk. Lalu menyerbu desa
itu, kayak Amerika
menggempur Taliban. Tak urung Rumah Sakit Umum Pamekasan disesaki jenasah.
Brand image Golkar pun kian melesak.
Padahal Golkar pada Pemilu sebelumnya, kalah telak di tiga dari empat kabupaten
Pulau Madura - termasuk di Pamekasan.
Bermuhibbahlah
Soedomo ke pesantren-pesantren di Pamekasan, membawa konsep Aladin, tadi. Ia
pun bertemu dengan Kiai Angsana, Nyu Pote, plus sejumlah kiai besar Kecamatan
Paleng’aan. Perhelatan digelar, risalah dibikin, kata sepakat
dirajut, bai’at pun diselenggarakan dalam pesta pura-pura. Pada hari H Pemilu
nanti, semua warga di situ - yang diajengi oleh lima pesantren besar -
akan mencoblos Golkar, dengan imbalan proyek Aladin tadi. Siiplah.
Aladin
sendiri, berupa proyek pembangunan jalan raya sepanjang 17 kilo meter, sejak
proses macadam hingga pengaspalan painting, tembus hingga ke beranda lima
pesantren besar tadi. Bukan main, jalan bagus itu rampung dalam 17 hari, siang
malam, digarap oleh tiga kontraktor besar: Widia Karya, Nindia Karya, Waskita
Karya, plus pemborong lokal AIKA. Desa-desa
yang tadinya buram, sekonyong-konyong menjelma kota satelit kecil berkat
Aladin. Ala mak: bim-sala-bim,
wuh, wuh, wuh! Jangan lupa angka saktinya: 17 dan 3 = merdeka = coblos
Golkar!
Mestinya
Golkar menang, dong. Apalagi biaya kampanye yang
gila-gilaan besarnya, sudah dikerahkan. Apalagi sudah dibai’at pula, direpresif pula. Sial,
waktu hari H masuk, Kamis, tak satu pun yang mencoblos Golkar. He he he, Soedomo kecele, di Jakarta
ia murang-muring.
Tapi,
bagaimana kiat PPP melakukan itu? Sementara pimpinan genuine-nya
diuber-uber sampai terkencing-kencing mencari persembunyian hingga ke Demak?
Mau tahu?
Tiga
hari menjelang hari H, menghadaplah seorang Binthereh - dalam Jawa Bendoro
- dalam Indonesia
kira-kira Santri Dalam. Ia pun singgah di kedai dekat Pesantren Nyu Pote. Ada
enam orang yang sedang minum kopi berjahe di kedai itu, selain sang Binthereh.
Orang
pertama bertanya, sang Binthereh menjahut: “Saya mau sowan.
Saya dengar kiai baru pulang dari Asem Bagus,” katanya. Setelah itu, ia pun,
betul-betul masuk ke rumah Kiai Angsana. Tapi, ia sesungguhnya tak pernah
bertemu muka atau hearing dengan Kiai. Cuma sekedar duduk-duduk di ruang tamunya,
tanpa pernah melihat Kiai.
Satu
jam kemudian, sang Binthereh keluar dari sana, langsung
menuju kedai, minum-minum lagi. Eh, keenam pria tadi, kebetulan masih di situ.
Seorang di antaranya bertanya: “Apa dawuh Kiai, Binthereh?”
Sang Binthereh tak langsung memberi jawab.
Tapi ia merogoh sakunya. “Ini, ambil!” katanya, sambil menyodor secarik kertas
dekil bertulis Arab gundul, ditambah Piagam Madinah, yang pernah
dirumus-maknakan kembali oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin (Alm) - pemilik Pondok
Pesantren Asem Bagus.
Kontan
saja keenam orang itu cengengesan. Habis,
mereka cuma bisa baca, tapi cuma tahu artinya sepenggal. “Apa artinya Binthereh?”
tanya yang lain. Sang Binthereh menyahut: “Nomor satu!”
Isi
secarik kertas kumal itu memang ajakan menusuk tanda gambar nomor satu: PPP.
Tapi, kalau disebut Kiai As’ad yang bikin, pasti bukan.
Sedang Piagam Madinah itu, betul dari Asem Bagus.
Biarpun
kumal, kertas itu berbahaya. Kalau ketahuan Golkar atau ABRI, mereka bisa
‘diamankan’ dengan tuduhan subversif a la PNPS Nomer11
tahun 1963, semudah membalik tangan. Apalagi sudah masuk jeda minggu tenang,
bisa berurusan dengan Mahmilub, yang angker. Jadinggak bisa
diperbanyak, sementara mesin foto copy, masih langka.
Setelah Binthereh pergi, keenam orang itu juga pulang,
sambil singgah di tiap kedai. Mereka berkisah tentang Binthereh yang sowan,
tentangdawuh nomor satu, plus dawuh Kiai As’ad: nomer satu! Tentu
saja bisa-bisanya merekalah berimprovisasi. Laksana kiat
‘politik pasar bursa’ dalam textbook, mereka
membentuk trend determinan pasar bursa: volume,
manipulasi, emosi, hingga sekeras batu bola salju: the
net present price deal-down!
Begitulah rawi-nash sang Binthereh berjangkit cepat ibarat AIDS.
Mobilitasnya sebangun rantai multi-level-marketing, dari kedai ke kedai, dari satu
huma ke huma tembakau lainnya, terus, dan terus. Alhasil seluruh wilayah jadi
nomor satu, hanya dalam tempo dua hari. Travestinya: Kiai Angsana pun, harus
tunduk pada dawuh-nya, yang tak
pernah ia dawuh-kan. He he he.
Begitulah
saya contohkan praktikum komunikasi informal dari Kang Djalal tadi. Mudah-mudahan benar.
Menjelang subuh, saya tutup cerita itu: tak mustahil kelak Amien Rais juga bisa
menjadi kiai yang harus tunduk kepada dawuh-nya sendiri yang
tak pernah ia dawuh-kan. Dasar
politik, bisa aja.
Apalagi
fragmentasi di tubuh DPP PAN kian seru ya, sejak banyak orang yang cakap ngadon kemasan Muhammadiah ><
nonMuhammadiah menjadi sekte baru untuk disuguh ke DPW-DPW di tiap prasmanan.
Kapan Saudara mau kerja untuk rakyat kalau terus sibuk ngadon begitu? Baunya busuk, euy.
Masih
berdering rasanya di tulang sanggurdi, bagaimana kisah-kisah para Binthereh
a la PAN memainkan
‘politik pasar bursa’ dalam kasus Kalimantan Barat di Jakarta, dan lain-lain.
Menyedihkan sekali. Wajar kalau Faisal Basri, yang tak terbiasa berbedak
lumpur, ngibrit buru-buru dari PAN. Makanya, rekan itu
pun kini, tekun berlatih jadi Maling Cluring sambil ngelmu
Binthereh. Selamat
menggangsir Sobat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar