Selasa, 04 September 2001

Kiat Maling Cluring a la PPP


Musim dingin sudah hampir habis di Washington DC, Virginia. Sebentar lagi kembang-kembang segera mekar. Tapi di beberapa kota perbatasan Arizona, gumuk-gumuk es (snowball) masih akan berdiri sebulan lagi. Jadi, anak-anak pun piknik ke sana, mengukir snowballmenjadi patung nenek penyihir, hingga es meleleh habis, bulan depan.

Snowball asli di Amerika Serikat memang indah dan menggembirakan. Tapi tak diketahui pasti siapa yang mula-mula menggunakan metafora idiom bola salju sehingga bertebaran dalam banyak disiplin ilmu. Toh, yang paling gemar satu dekade belakangan adalah para medik, untuk suatu keadaan  mengerikan: menunggu Godot (maut).

Tak percaya? Tahun 1993, saya meneliti tentang HIV/AIDS bersama Majalah Tiras di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Universitas Tarumanegara, dan Universitas Trisakti. Semua dokter, dokter muda, dan calon dokter di situ menggunakan istilah serupa begitu ditanya jumlah penderita AIDS yang, ketika itu tak ada  pencegahnya: “snowball!”

Dihitung sih, dikit. Jumlah penderitanya sendiri berlipat dibanding statistiknya. Yang tak diketahui itu, meninggal tanpa pernah bersentuhan dengan para medik. Praktis, datanya raib, tanpa rekor. Ooo, itu rupanya yang disebut bola salju: luarnya tampak rapuh dan indah, dalamnya membatu, hingga bisa diukir menjadi patung nenek sihir. Makanya, pakai kondom kalau berzinah. Sekadar cipokan hingga basah-basah dengan penderita, dijamin tidak ketularan!

Bulan kemaren, yang menemukan snowball, bukan saya. Tapi rekan saya dari PAN, di Gedung DPR, Gatot Subroto, Jakarta, yang lagi berdandan untuk pesta Sidang Tahunan (ST) MPR 2001. Emangnya ada salju atau AIDS di Gedung DPR?

Nah, snowball yang ini, lain: bola salju di wilayah politik. Rupanya jauh-jauhari sejumlah orang bergerilya ke sana dengan cara rumpi, yang intinya menafikan kinerja PAN Jakarta. Tentu saja sasarannya adalah Ketua Umum DPP PAN, Amien Rais, yang memang berkantor di situ, sementara tumbalnya ialah DPW PAN DKI Jakarta.

Isu yang dieksplotir macam-macam. Sahdan, merugikan nama baik Dewan Partai dan moda political interest PAN, pukul rata. Ringkasnya: kinerja PAN Jakarta itu, amburadullah! Tentu saja sang rekan lantas gusar. Soalnya, “Isu itu tak benar. Ibarat AIDS”, katanya, “Isu itu menjelmasnowball.”

Syukurlah rekan itu tak kurang akal. Ia kumpulkan semua data, lalu dijumpainya Amien Rais. Entah bagaimana kesudahannya setelah ia jumpa Amien, Senin, pekan lalu, di sela-sela ST. Ia cuma bilang: “Beres!” Jadi, tak ada patung nenek sihir di situ?

Rupanya snowball di wilayah politik bagi kawan itu tak serumit dunia AIDS walau tak seindah di Arizona. Tentu saja saya setengah setuju. Jadi, kami pun berdebat semalam suntuk. Ya, ampun, terpaksa saya mengutip sana-sini pendapat pakar untuk memenangkan debat konyol itu. Dari ilmu Kang Djalaluddin Rahmat, saya kutip komunikasi informalnya. Dari Madam Astrid Susanto, saya ambil idiom Lasswell yang paling banyak disitir skripsian anak Fisip Universitas Padjajaran: “siapa yang omong, bagaimana ihwalnya, dan sejauh apa dampaknya?” Et-cetera. He, he, he, saya menang jadinya. Mau tahu kemenangan saya?

Untuk melenyapkan efek komunikasi informal, harus dilakukan klaim dua arah sekaligus: formal dan informal. Tapi komunikasi formal, searah, takkan mampu mengalahkan efek komunikasi informal dalam kasus itu.

Jadi rekan itu, saya sarankan menggunakan serangan balik via media formal, sekaligus jadi Maling Cluring - tokoh sakti mandraguna asal Jombang dalam Babad Jawa Timuran semasa jaya-jayanya Istana Trowulan, Abad XII.

Profesional soal garong-menggarong, Maling Cluring bersenjatakan keris taji ayam jantan untuk menembus bumi kala tengah menggangsir korbannya. Nah, rekan itu juga harus kayak Maling Cluring. Menggangsir snowball tadi, langsung ke inti terdalam  gumuk es yang membatu itu.

“Kalau batunya sudah digangsir, otomatis luarnya mencair ‘kan,” kataku, dengan mimik pura-pura serius. Alhamdulillah, ketika saya tengokkemarin, ia mulai latihan menjadi Maling Cluring dan mulai menakik patung nenek tukang sihir. Mudah-mudahan saja saya benar. He he he.

Rahasia kemenangan saya sendiri, bukan karena resep Maling Cluring itu. Tapi karena catatan studi saya tentang proyek Aladin. Saya bongkar kembali file-nya untuk sekadar bahan retorika bagaimana kesaktian komunikasi informal, yang harus ia lakukan dalam serangan balik nanti.

Pada suatu hari tahun 1978, ihwalnya, datanglah Pangkopkamtib Laksamana Soedomo ke Pamekasan, Madura, berkampanye Pemilu untuk Golkar. Kampanye ini strategis bagi Golkar. Maklum, sebelumnya terjadi pembantaian sipil di desa Larangan oleh Armed, karena kepala desa di situ - yang Golkar - berasal dari Armed, diteriaki maling tengah malam buta. Lalu dicincang ramai-ramai oleh massa hingga tak berwujud jasadnya. Karuan saja Armed dari Surabaya amuk. Lalu menyerbu desa itu, kayak Amerika menggempur Taliban. Tak urung Rumah Sakit Umum Pamekasan disesaki jenasah.

Brand image Golkar pun kian melesak. Padahal Golkar pada Pemilu sebelumnya, kalah telak di tiga dari empat kabupaten Pulau Madura - termasuk di Pamekasan.

Bermuhibbahlah Soedomo ke pesantren-pesantren di Pamekasan, membawa konsep Aladin, tadi. Ia pun bertemu dengan Kiai Angsana, Nyu Pote, plus sejumlah kiai besar Kecamatan Paleng’aan. Perhelatan digelar, risalah dibikin, kata sepakat dirajut, bai’at pun diselenggarakan dalam pesta pura-pura. Pada hari H Pemilu nanti, semua warga di situ - yang diajengi oleh lima pesantren besar - akan mencoblos Golkar, dengan imbalan proyek Aladin tadi. Siiplah.

Aladin sendiri, berupa proyek pembangunan jalan raya sepanjang 17 kilo meter, sejak proses macadam hingga pengaspalan painting, tembus hingga ke beranda lima pesantren besar tadi. Bukan main, jalan bagus itu rampung dalam 17 hari, siang malam, digarap oleh tiga kontraktor besar: Widia Karya, Nindia Karya, Waskita Karya, plus pemborong lokal AIKA. Desa-desa yang tadinya buram, sekonyong-konyong menjelma kota satelit kecil berkat Aladin. Ala mak: bim-sala-bim, wuh, wuh, wuh! Jangan lupa angka saktinya: 17 dan 3 = merdeka = coblos Golkar!

Mestinya Golkar menang, dong. Apalagi biaya kampanye yang gila-gilaan besarnya, sudah dikerahkan. Apalagi sudah dibai’at pula, direpresif pula. Sial, waktu hari H masuk, Kamis, tak satu pun yang mencoblos Golkar. He he he, Soedomo kecele, di Jakarta ia murang-muring.

Tapi, bagaimana kiat PPP melakukan itu? Sementara pimpinan genuine-nya diuber-uber sampai terkencing-kencing mencari persembunyian hingga ke Demak? Mau tahu?

Tiga hari menjelang hari H, menghadaplah seorang Binthereh - dalam Jawa Bendoro - dalam Indonesia kira-kira Santri Dalam. Ia pun singgah di kedai dekat Pesantren Nyu Pote. Ada enam orang yang sedang minum kopi berjahe di kedai itu, selain sang Binthereh.

Orang pertama bertanya, sang Binthereh menjahut: “Saya mau sowan. Saya dengar kiai baru pulang dari Asem Bagus,” katanya. Setelah itu, ia pun, betul-betul masuk ke rumah Kiai Angsana. Tapi, ia sesungguhnya tak pernah bertemu muka atau hearing dengan Kiai. Cuma  sekedar duduk-duduk di ruang tamunya, tanpa pernah melihat Kiai.

Satu jam kemudian, sang Binthereh keluar dari sana, langsung menuju kedai, minum-minum lagi. Eh, keenam pria tadi, kebetulan masih di situ. Seorang di antaranya bertanya: “Apa dawuh Kiai, Binthereh?”

Sang Binthereh tak langsung memberi jawab. Tapi ia merogoh sakunya. “Ini, ambil!” katanya, sambil menyodor secarik kertas dekil bertulis Arab gundul, ditambah Piagam Madinah, yang pernah dirumus-maknakan kembali oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin (Alm) - pemilik Pondok Pesantren Asem Bagus.

Kontan saja keenam orang itu cengengesan. Habis, mereka cuma bisa baca, tapi cuma tahu artinya sepenggal. “Apa artinya Binthereh?” tanya yang lain. Sang Binthereh menyahut: “Nomor satu!”

Isi secarik kertas kumal itu memang ajakan menusuk tanda gambar nomor satu: PPP. Tapi, kalau disebut Kiai As’ad yang bikin, pasti bukan. Sedang Piagam Madinah itu, betul dari Asem Bagus.

Biarpun kumal, kertas itu berbahaya. Kalau ketahuan Golkar atau ABRI, mereka bisa ‘diamankan’ dengan tuduhan subversif a la PNPS Nomer11 tahun 1963, semudah membalik tangan. Apalagi sudah masuk jeda minggu tenang, bisa berurusan dengan Mahmilub, yang angker. Jadinggak bisa diperbanyak, sementara mesin foto copy, masih langka.

Setelah Binthereh pergi, keenam orang itu juga pulang, sambil singgah di tiap kedai. Mereka berkisah tentang Binthereh yang sowan, tentangdawuh nomor satu, plus  dawuh Kiai As’ad: nomer satu! Tentu saja bisa-bisanya merekalah berimprovisasi. Laksana kiat ‘politik pasar bursa’ dalam textbook, mereka membentuk trend determinan pasar bursa: volume, manipulasi, emosi, hingga sekeras batu bola salju: the net present price deal-down!

Begitulah rawi-nash sang Binthereh berjangkit cepat ibarat AIDS. Mobilitasnya sebangun rantai multi-level-marketing, dari kedai ke kedai, dari satu huma ke huma tembakau lainnya, terus, dan terus. Alhasil seluruh wilayah jadi nomor satu, hanya dalam tempo dua hari. Travestinya: Kiai Angsana pun, harus tunduk pada dawuh-nya, yang tak pernah ia dawuh-kan. He he he.

Begitulah saya contohkan praktikum komunikasi informal dari Kang Djalal tadi. Mudah-mudahan benar. Menjelang subuh, saya tutup cerita itu: tak mustahil kelak Amien Rais juga bisa menjadi kiai yang harus tunduk kepada dawuh-nya sendiri yang tak pernah ia dawuh-kan. Dasar politik, bisa aja.

Apalagi fragmentasi di tubuh DPP PAN kian seru ya, sejak banyak orang yang cakap ngadon kemasan Muhammadiah >< nonMuhammadiah menjadi sekte baru untuk disuguh ke DPW-DPW di tiap prasmanan. Kapan Saudara mau kerja untuk rakyat kalau terus sibuk ngadon begitu? Baunya busuk, euy.

Masih berdering rasanya di tulang sanggurdi, bagaimana kisah-kisah para Binthereh a la PAN memainkan ‘politik pasar bursa’ dalam kasus Kalimantan Barat di Jakarta, dan lain-lain. Menyedihkan sekali. Wajar kalau Faisal Basri, yang tak terbiasa berbedak lumpur, ngibrit buru-buru dari PAN. Makanya, rekan itu pun kini, tekun berlatih jadi Maling Cluring sambil ngelmu Binthereh. Selamat menggangsir Sobat!

Tidak ada komentar: