Jumat, 26 Oktober 2012

Perang Dahlan Iskan Versus DPR



Dahlan Perang dengan DPR, yo konyol. Dahlan harus tetap mematuhi hukum dan uu. Bahwa anggota dpr korup, suka ngemis, suka lapan anam (suap), adalah dua masalah terpisah. DPR bisa melancarkan gisjeling (pernyanderaan) sebagmana disebut uunya jika ia tak memenuhi panggilan dpr hingga batas yg ditetapkan uu. 

Team Gijseling bisa dibentuk oleh Panja, dan dapat dieksekusi sendiri oleh DPR. DPR juga bisa menggunakan UU No 6 tahun 1954 tentang Hak Angket DPR untuk sekadar mengambil legitimasinya, yaitu penguasa polisi, kejaksaan, kehakiman, di mana Pansus memiliki otoritas untuk mengeksekusi sendiri. Baca lagi uu itu, berikut TAP MPRS Gotong Royongnya. UU Hak Angket, cantolannya masih UUD Republik Indonesia Serikat. Madura masih merupakan negara bagian. UU ini berlaku efektif hingga kini, dan ketika UU tsb membentuk Panitia Khusus, Pansusnya tetap berlaku syah dan legitimet walau DPRnya bubar. Jika DPR menggunakan Hak Angket itu, tak perlu sampai ke paripurna.

Prosesnya saja, sudah bisa meringkus Dahlan sebagai melanggar UU. Kepada bekas bos gue ini, sebaiknya tetap mematuhi hukum dan UU. Sedangkan anggota dpr yang ngemis-ngemis itu, biasanya pakai ngancam segala, laporkan ke KPK, buka ke pers, supaya bisa ditindaklanjuti LSM ke Badan kehormatan DPR. Jd, menegakkan benang basah, tak perlu ikut kuyup. Makanya, hak untuk menyatakan pendapat oleh anggota pansus uu no 6/1954 itu, tentang kasus century, tak perlu dilaporkan kepada paripurna. Satu orang saja cukup untuk mengajukan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi, dengan bukti forensik dari temuan uu no 6/1954. MK tak punya pilihan lain, kecuali menerima aduan itu.

Forum uu no 6/1954 itu adalah hukum tata negara. Hanya ada dua lembaganya. Yaitu, DPR dan MK. Konyolnya, kok diserahkan kepada hukum pidana? Telmi ya? Sulga ya robb. Dahlan Iskan (DI) versus DPR, saya kira DPR bakal kalah. Bukan karena DI dibackup oleh SBY. Melainkan, petarung-petarung di DPR sudah tak berdaya oleh jumlah dosa-dosa yg bertumpuk, sustainable, telah menghancurkan kehebatan powernya. Dosa itu memenjarakan DPR ke dalam gelap, dan tak mampu bangkit. 

DPR tinggal olah kata yg dipenuhi cacian publik. Di antara kelemahan itulah DI bermain. DI sendiri bukan tak punya ambisi, seperti yg saya kenal, menggunakan jurus gaya innocent, ia nothings to lose. Dalam catatan saya, baru DI yang mampu melecehkan DPR. Gus Dur pernah mencoba melawan, tapi ia kalah dengan sosok Amien Rais yang waktu itu, juga tampil dengan jurus innocent. Mula-mula DPR menyerang dengan Interpelasi, lalu dilanjutkan dengan Hak Angket, lalu difinalkan dalam Sidang Istimewa yg cukup sadis. Kali ini, DPR mendapat lawan yang kuat, pada saat DPR tak punya jurus innocent. 

Konspirasi kaum modal, yaitu BUMN digilas lebih dulu oleh DI hingga tak berkutik dan tak mampu membentuk konspirasi. DPR kian terpuruk lagi dengan serangan KPK yang langsung menghantam jantung rulling party. Tapi, DI tetap saja harus membayar mahal pada akhirnya, ketika KPK gagal membersihkan koruptor dari parlemen. Ayo kompori perkelahian DI melawan DPR.

Dahlan Iskan (DI) versus DPR, saya kira DPR bakal kalah. Bukan karena DI dibackup oleh SBY. Melainkan, petarung-petarung di DPR sudah tak berdaya oleh jumlah dosa-dosa yg bertumpuk, sustainable, telah menghancurkan kehebatan powernya. Dosa itu memenjarakan DPR ke dalam gelap, dan tak mampu bangkit. DPR tinggal olah kata yg dipenuhi cacian publik. Di antara kelemahan itulah DI bermain. DI sendiri bukan tak punya ambisi, seperti yg saya kenal, menggunakan jurus gaya innocent, ia nothings to lose. 

Dalam catatan saya, baru DI yang mampu melecehkan DPR. Gus Dur pernah mencoba melawan, tapi ia kalah dengan sosok Amien Rais yang waktu itu, juga tampil dengan jurus innocent. Mula-mula DPR menyerang dengan Interpelasi, lalu dilanjutkan dengan Hak Angket, lalu difinalkan dalam Sidang Istimewa yg cukup sadis. 

Kali ini, DPR mendapat lawan yang kuat, pada saat DPR tak punya jurus innocent. Konspirasi kaum modal, yaitu BUMN digilas lebih dulu oleh DI hingga tak berkutik dan tak mampu membentuk konspirasi. DPR kian terpuruk lagi dengan serangan KPK yang langsung menghantam jantung rulling party. Tapi, DI tetap saja harus membayar mahal pada akhirnya, ketika KPK gagal membersihkan koruptor dari parlemen.

Ayo kompori perkelahian DI melawan DPR.

Tidak ada komentar: